oleh

Pancawaluya di Alam Terbuka, Cara Cadisdik VIII Membentuk Generasi Disiplin dan Mandiri

-Artikel, Daerah-39 Dilihat

Kabupaten Bandung, Lintasrakyat.id – Pendidikan karakter tidak hanya dibangun melalui pembelajaran di ruang kelas. Nilai kedisiplinan, kemandirian, dan kerja sama juga dapat ditanamkan melalui kegiatan di alam terbuka. Hal inilah yang menjadi semangat pelaksanaan Camping Pendidikan Dasar di Bumi Perkemahan Al-Mukhlisin, Jumat-Sabtu (6-7 November 2026).

Mengusung tema “Membangun Generasi Pancawaluya yang Disiplin dan Mandiri”, kegiatan ini berada di bawah naungan Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat melalui Cabang Dinas Pendidikan (Cadisdik) Wilayah VIII.

Spanduk penyambutan bertuliskan “Selamat Datang – Camping Pendidikan Dasar” tampak terpasang di pintu masuk lokasi kegiatan. Pada spanduk utama juga terpampang nama dan sosok H. Arif Hardiana, M.Pd., Kepala SMAN 1 Margahayu.

Kegiatan tersebut menjadi salah satu upaya pembinaan karakter peserta didik melalui pengalaman belajar langsung di luar lingkungan sekolah.

Pancawaluya sendiri merupakan nilai pendidikan yang diperkenalkan Pemerintah Provinsi Jawa Barat untuk membentuk generasi yang memiliki lima karakter utama, yakni Cageur (sehat jasmani dan rohani), Bageur (baik dalam akhlak dan perilaku), Bener (benar dalam berpikir dan bertindak), Pinter (cerdas dan berilmu), serta Singer (tanggap, cekatan, dan terampil).

Melalui kegiatan camping selama dua hari satu malam, peserta diperkenalkan pada nilai-nilai tersebut melalui berbagai aktivitas. Tidak sekadar mendirikan tenda, mereka juga mengikuti kegiatan yang melatih kedisiplinan, tanggung jawab, kemandirian, dan kemampuan bekerja sama.

Aktivitas yang menjadi bagian dari pembinaan antara lain latihan baris-berbaris, membiasakan bangun tepat waktu, menjaga kebersihan lingkungan perkemahan, serta menjalankan kegiatan secara tertib.

Aspek kemandirian juga dilatih melalui kegiatan menyiapkan kebutuhan sendiri, memasak, mencuci perlengkapan makan, hingga merapikan peralatan. Sementara itu, kerja sama dibangun melalui gotong royong mendirikan tenda, pembagian tugas, piket malam, dan permainan kelompok.

Peserta juga diajak menumbuhkan kepedulian terhadap alam dengan menjaga kebersihan kawasan Bumi Perkemahan Al-Mukhlisin dan tidak membuang sampah sembarangan. Kegiatan api unggun dan renungan malam menjadi bagian dari rangkaian aktivitas untuk membangun kebersamaan dan refleksi diri.

Seorang panitia di lokasi kegiatan menyampaikan bahwa camping tersebut dirancang agar peserta terbiasa melakukan berbagai hal secara mandiri.

“Tujuan kami sederhana, Kang. Anak-anak sekarang banyak yang manja karena semua dilayani HP dan orang tua. Di sini, selama dua hari, mereka harus mandiri. Mau makan ya masak sendiri, mau tidur ya pasang tenda sendiri. Itulah Pancawaluya yang sebenarnya, disiplin dan mandiri,” ungkapnya.

Pemilihan Bumi Perkemahan Al-Mukhlisin turut mendukung konsep pembelajaran di alam terbuka. Lingkungan yang asri dan jauh dari keramaian perkotaan dinilai memberikan ruang bagi peserta untuk beraktivitas sekaligus berinteraksi lebih dekat dengan alam.

Camping Pendidikan Dasar ini menjadi salah satu bentuk kegiatan pendidikan yang menempatkan pembentukan karakter sebagai bagian penting dari proses belajar. Melalui pengalaman langsung, peserta diharapkan tidak hanya memahami nilai-nilai Pancawaluya secara teori, tetapi juga mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Pendidikan pada akhirnya bukan hanya tentang pencapaian akademik atau pembangunan sarana sekolah, tetapi juga tentang membentuk generasi yang sehat, berakhlak baik, jujur, cerdas, terampil, disiplin, dan mandiri.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *